Kerajinan Anyaman Rotan Teluk Sumbang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya, Peluang Ekonomi Menjanjikan Terbuka Lebar

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Helaian rotan yang dianyam dengan teliti, merupakan keterampilan yang menjadi warisan budaya turun-temurun masyarakat Dayak Basap di Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau.

 

Kerajinan yang lahir dari kedekatan masyarakat dengan alam ini tidak hanya dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga mulai dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

 

Di masyarakat Dayak Basap, menganyam rotan bukan sekadar kerajinan untuk menghasilkan barang yang dapat digunakan sehari-hari. Keterampilan tersebut menjadi bagian dari warisan leluhur yang terus dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

 

Dengan memanfaatkan rotan dari hutan setempat, serta dedaunan alami sebagai bahan pewarna, para perajin menghasilkan berbagai produk anyaman yang memiliki karakter khas, seperti tas, topi dan lainnya.

 

Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan keterampilan. Di tangan para perajin, bahan alami diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menyimpan cerita tentang tradisi masyarakat yang mewarisinya.

 

Potensi inilah yang ingin terus dikembangkan Pemerintah Kampung Teluk Sumbang.

 

Kerajinan anyaman rotan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai produk khas daerah, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya yang dapat dinikmati pengunjung.

 

Kepala Kampung Teluk Sumbang, Badri Husni Setiawan, mengatakan kerajinan anyaman rotan telah diintegrasikan ke dalam pengembangan pariwisata kampung.

 

Menurutnya, wisatawan yang datang tidak hanya berkesempatan melihat dan membeli produk kerajinan, tetapi juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya hingga belajar menganyam.

 

Dengan konsep tersebut, pengalaman berwisata tidak hanya berpusat pada kunjungan ke suatu tempat, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal lebih dekat kebudayaan masyarakat Dayak Basap.


"Selain menjadi produk khas kampung, anyaman rotan juga kami masukkan dalam paket wisata budaya. Wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatannya, bahkan belajar menganyam," ujar Badri.

 

Di balik potensi pengembangan tersebut, Badri mengungkap bahwa para perajin anyaman rotan Teluk Sumbang masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memenuhi permintaan dan kebutuhan pasar.

 

Badri menjelaskan, pemasaran produk masih dilakukan mandiri secara rutin. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas produksi ketika permintaan meningkat.

 

“Kemampuan produksi, pengelolaan usaha, dan kesiapan kelompok perajin juga perlu diperkuat agar peluang pasar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” jelasnya.

 

Selain itu proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu dan kemampuan khusus pengrajin untuk meningkatkan produksi perlu terus ditingkatkan.

 

Pemerintah kampung pun berupaya mendorong pengembangan produk tersebut secara bertahap, dengan tetap mempertahankan ciri khas yang menjadi identitas kerajinan Dayak Basap.

 

“Harapannya, anyaman rotan tidak hanya semakin dikenal oleh pengunjung yang datang ke Teluk Sumbang, tetapi juga memiliki kesempatan menjangkau konsumen dari luar daerah,” katanya.

 

Tim Penggerak PKK Kampung Teluk Sumbang turut membantu memperkenalkan hasil kerajinan kepada masyarakat melalui keikutsertaan dalam sejumlah kegiatan, termasuk ikut terlibat dalam Berau Expo 2026.

 

Badri juga menyampaikan perajin anyaman rotan dari Teluk Sumbang dijadwalkan memperagakan proses pembuatan tas anyaman di stan Kecamatan Biduk-Biduk pada kegiatan Berau Expo yang berlangsung 16–25 Oktober.

 

Melalui demonstrasi tersebut, pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Dayak Basap.

 

Kehadiran para perajin di arena pameran diharapkan dapat menarik perhatian pengunjung sekaligus memperluas pengenalan terhadap produk lokal dari Kecamatan Biduk-Biduk.

 

Kesempatan ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperlihatkan bahwa kerajinan tradisional memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif tanpa melepaskan akar budayanya.  (sep/FN)